“eh,eh,,ini lucu
banget gelangnya.. menurutmu,gimana zi, yan?” sambil mengambil dan mencobanya,
Diah kayanya seneng banget deh. “iya, lucu diy. Trus, ini talinya juga bisa
dilonggarin, kan? Takutnya kalo dipake sama aku, ga muat lagi. Hehe,,. Kamu mau
beli diy?”. “iya, qu mau beli. Asalkan Uzi nd Dian juga beli ya. Biar kita
samaan gitu. Ini kan sbagai tanda persahabatan kita. Gimana?”. Aku dan Dian
saling tatap mata lalu senyum tanda setuju. Setelah puas memilih-milih gelang
yang akan dibeli, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Esok harinya, gelang
itu pastinya sudah kita pakai ke sekolah. Semenjak bertemu mereka, rasanya ku
sudah lama mengenal mereka, hingga aku tau kebiasaan dan sifat masing-masing
dari mereka.
Dari sejak kelas
1 sampe kelas 3 SMA, kita selalu bersama. Dan kita pun sudah akrab pada
masing-masing keluarga kita. Belajar bareng, bercanda bareng, sampe nangis pun
kita bareng, jika salah satu dari kita lagi sedih. Hal-hal yg ga’ mungkin ku
lupain slamanya yaitu saat ku sedang bersama mereka. Karena walaupun Diah nd Dian
sifatnya agak egois, itu tak menjadi masalah buatku. Karena ku tau, walaupun
mereka seperti itu, tapi mereka sayang sama aku. Begitu pula aku, sayang banget
sama mereka.
![]() |
| tingkah konyol kita yang aneh saat di foto, terutama kedua sahabatku. |
![]() |
| senyuman ini yang membuat ku rindu pada keakraban kita dulu.. :) |
Surat kelulusan pun
datang pada saat kita selesai menjalani UN dan UAS. Alhamdulillah, kita bertiga
lulus semua, walaupun aku sempet sedih, karena Diah dan Dian bisa bareng lagi
di Universitas yg sama di Jakarta Utara. Sedangkan aku, diterima di Universitas
di Jakarta bagian Timur. Walaupun sama-sama di Jakarta, tetap saja jauh, begitu
kata batinku.
Sebulan, dua
bulan, tiga bulan kami masih tetap sering berkomunikasi walaupun hanya sekedar
telpon dan sms. Berbagi cerita suka dan duka kita lalui bersama. Rasa kangen
yang meluap akhirnya tersampaikan juga ketika kami sedang berada sama-sama di
kampung halaman.
Tetapi, pada
suatu saat Diah dan Dian sms aku curhat tentang kekesalan mereka terhadap sifat
sahabatnya yang sekarang mulai berubah. Diah kesal dan menangis saat cerita tentang
Dian yang begini, Dian pun cerita tentang sifat Diah yang begitu. Pada saat itu
aku cemas dan tak tau harus percaya pada siapa. Keduanya sahabatku dan tak
mungkin ku hanya memihak salah satu di antara mereka. Aku sudah mencoba menenangkan
hati keduanya dan mencari jalan keluarnya, tapi keduanya tetap saja tak mau
mengerti dan menurut mereka masing-masing, pendapat merekalah yang benar. Ya
Allah, aku rasanya ingin menemui mereka dan ingin bicara langsung pada
keduanya, tapi itu semua tak mungkin, karena aku pun disini masih banyak tugas
kampus yang harus diselesaikan. ketika ku berbicara dengan mereka, meminta saling memahami dan mengerti satu sama lain, malah mereka bertengkar di depanku. Pada liburan-liburan berikutnya, semua tak
seperti dulu. Aku hanya bisa bertemu dan saling rindu hanya pada masing-masing
dari mereka. Hari ini ku dapat bertemu Dian, hari berikutnya ku bertemu Diah.
Tapi, kami tak dapat berkumpul bertiga seperti dulu lagi. Sungguh, hal ini
membuatku kecewa sangat dengan sikap mereka seperti itu. Apa yang harus ku
lakukan sekarang?
aku ga’ mau kita sendiri-sendiri seperti tak mengenal satu sama lain, sobat..
aku ga’ mau kita sendiri-sendiri seperti tak mengenal satu sama lain, sobat..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar